
INTERNASIONAL, vikara.id – Presiden China Xi Jinping mengeluarkan instruksi keras kepada jajaran militernya. Dalam sebuah sesi kajian tertutup Politbiro, Xi mendesak Tentara Pembebasan Rakyat (People’s Liberation Army/PLA) untuk mempercepat penerapan kecerdasan buatan (AI) sekaligus memperberat perang melawan korupsi di internal militer.
Instruksi ini disampaikan Xi saat memimpin sesi kajian kelompok Politbiro pada Kamis (30/7/2026) waktu setempat, hanya beberapa hari menjelang peringatan HUT ke-99 PLA yang jatuh pada Sabtu (1/8/2026). Momen ini pun disebut sejumlah media internasional sebagai jendela langka untuk melihat arah modernisasi militer China saat ini.
Menurut kantor berita resmi China, Xinhua, Xi menegaskan bahwa kemampuan tempur tetap menjadi tujuan akhir sekaligus tolak ukur bagi modernisasi pertahanan nasional China. Ia secara spesifik meminta PLA memperkuat penggunaan teknologi tanpa awak dan sistem informasi berbasis jaringan.
“Perkuat penerapan militer dari teknologi cerdas tanpa awak, perdalam pengembangan dan penerapan sistem informasi jaringan, serta secara bertahap bangun sistem militer yang cerdas,” ujar Xi.
Xi juga menargetkan agar PLA mencapai target besar 100 tahun (centenary goals) pada 2027, dengan menyebut perlunya “kemajuan yang menentukan” dalam merealisasikan modernisasi pertahanan nasional dan angkatan bersenjata secara mendasar.
Xi menyerukan lebih banyak aplikasi pertahanan yang memanfaatkan teknologi otonom dan AI sebagai bagian dari upayanya membangun kekuatan tempur yang lebih canggih.
Di sesi yang sama, Xi juga melontarkan pesan tegas soal loyalitas militer kepada partai. Dikutip dari Reuters, Xi menyampaikan kalimat yang jadi sorotan banyak media internasional:
“Moncong senjata harus selalu patuh pada komando/perintah partai,” tegas Xi dalam forum tersebut.
Pernyataan itu disertai instruksi untuk memperdalam kampanye antikorupsi di tubuh PLA. Media StratNews Global melaporkan bahwa Xi memerintahkan pembersihan korupsi yang lebih dalam, sekaligus mendorong modernisasi yang lebih cepat dan kesiapan tempur yang lebih tinggi, semuanya di bawah kendali penuh Partai Komunis China.
Sesi kajian Politbiro soal AI seperti ini tergolong langka. Analis China Jordan Schneider dari ChinaTalk mencatat bahwa sesi Politbiro terakhir yang secara khusus membahas AI diadakan pada 2018 silam.
Yang menarik, menurut catatan Schneider, sesi kajian serupa di masa lalu kerap menjadi pertanda kebijakan besar yang menyusul kemudian. Sesi kajian Juli 2023 tentang “tata kelola urusan militer”, misalnya, mendahului gelombang pembersihan besar-besaran di tubuh PLA, termasuk pemecatan sembilan jenderal pada Desember 2023 dan berlanjut hingga 2024.
Meski Beijing belum pernah merinci secara eksplisit kapabilitas spesifik yang dibutuhkan untuk mencapai target modernisasi 2027, PLA sebelumnya menyebut target itu mencakup percepatan pembangunan kekuatan cerdas serta modernisasi persenjataan dan peralatan tempur. (*)


Tidak ada komentar