5 Keputusan The Fed yang Ditunggu Pelaku Pasar Global

8 menit membaca View : 12
vik.nusantara

Jakarta, vikara.id – Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), dijadwalkan mengumumkan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (29/7/2026) waktu Washington DC, atau Kamis (30/7/2026) dini hari waktu Indonesia. Pengumuman ini menjadi salah satu yang paling dinanti pelaku pasar global tahun ini.

Rapat dua hari yang digelar pada 28-29 Juli itu merupakan pertemuan kedua yang dipimpin Kevin Warsh sejak resmi menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed pada Mei 2026. Pada rapat perdananya, Juni lalu, Warsh bersama seluruh anggota FOMC sepakat secara bulat mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75 persen.

Berbeda dari rapat sebelumnya, keputusan kali ini jauh lebih sulit ditebak. Menjelang pengumuman, sejumlah lembaga pemantau pasar mencatat peluang kenaikan suku bunga melonjak tajam dalam waktu singkat.

Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan pidato pada hari upacara pelantikannya, di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 22 Mei 2026. REUTERS/Evelyn Hockstein/File Photo Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein

Berdasarkan data CME FedWatch Tool per Rabu, peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin tercatat sekitar 38 persen, naik drastis dari hanya 10,7 persen pada pertengahan Juli. Sementara itu, platform prediksi Polymarket mencatat peluang kenaikan bunga sedikit lebih rendah, di kisaran 25 persen.

Lonjakan ekspektasi ini terutama dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran. Sejumlah pejabat The Fed pun mulai secara terbuka menyuarakan perlunya suku bunga yang lebih tinggi untuk membawa inflasi kembali menuju target 2 persen.

Perlu dicatat, FOMC kali ini tidak disertai pembaruan proyeksi ekonomi maupun dot plot terbaru seperti pada rapat Juni. Alhasil, pasar harus membaca arah kebijakan The Fed semata dari keputusan bunga, pernyataan resmi, hasil pemungutan suara anggota komite, serta konferensi pers Warsh.

Berikut 5 hal yang paling ditunggu dari hasil FOMC Juli 2026.

1. Keputusan Suku Bunga: Bertahan atau Naik?

Fokus utama pasar tentu tertuju pada keputusan suku bunga itu sendiri. The Fed memiliki dua opsi, yaitu mempertahankan bunga di kisaran 3,50-3,75 persen, atau menaikkannya 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen.

Mempertahankan suku bunga masih menjadi skenario yang lebih mungkin terjadi. Inflasi konsumen AS tercatat turun lebih dalam dari perkiraan pada Juni, sementara penciptaan lapangan kerja melambat cukup tajam dalam beberapa bulan terakhir.

The Fed juga belum memberikan sinyal yang cukup jelas soal kemungkinan kenaikan bunga sebelum memasuki masa tenang (blackout period) menjelang FOMC. Kenaikan bunga tanpa petunjuk awal berisiko memicu gejolak besar di pasar keuangan.

Analis pasar dari IG, Fabien Yip, sebagaimana dikutip Reuters, menilai The Fed masih membutuhkan lebih banyak bukti mengenai berapa lama risiko inflasi ini akan bertahan sebelum mengambil langkah kenaikan bunga.

Meski begitu, opsi kenaikan bunga tidak sepenuhnya bisa dikesampingkan. Inflasi AS masih jauh di atas target, harga minyak kembali merangkak naik, dan pasar tenaga kerja belum menunjukkan pelemahan yang signifikan.

Jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga pada rapat kali ini, keputusan tersebut akan menjadi kenaikan pertama sejak Juli 2023. Pasar juga akan mencermati apakah langkah itu hanya bersifat sekali jalan atau menjadi awal dari rangkaian pengetatan kebijakan moneter yang baru.

2. Cara The Fed Membaca Inflasi dan Lonjakan Harga Minyak

Selain keputusan suku bunga, pasar juga mencermati bagaimana The Fed menilai perkembangan inflasi terkini.

Inflasi konsumen (CPI) AS tercatat turun dari 4,2 persen pada Mei menjadi 3,5 persen pada Juni. Inflasi inti, yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi, juga melandai dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen. Secara bulanan, indeks harga konsumen bahkan turun 0,4 persen, penurunan bulanan pertama sejak April 2020.

Namun, ukuran inflasi yang paling diperhatikan The Fed, yakni indeks personal consumption expenditures (PCE), justru masih berada di level tinggi. Inflasi PCE tercatat mencapai 4,1 persen secara tahunan pada Mei, tertinggi sejak April 2023, sementara core PCE naik 3,4 persen, level tertinggi sejak Oktober 2023.

Persoalannya, data PCE untuk periode Juni baru akan dirilis pada Kamis (30/7/2026) waktu AS, setelah keputusan FOMC diumumkan. Artinya, The Fed harus mengambil keputusan tanpa memiliki data terbaru dari indikator inflasi utama yang menjadi acuan resminya.

Ekonom memperkirakan core PCE Juni akan sedikit melandai ke level sekitar 3,3 persen. Akan tetapi, angka tersebut belum mencerminkan tekanan harga energi yang kembali muncul sepanjang Juli.

Penurunan inflasi pada Juni banyak ditopang oleh merosotnya harga energi, seiring sempat meredanya kekhawatiran pasokan minyak akibat gencatan senjata AS-Iran. Indeks harga energi tercatat turun 5,7 persen secara bulanan, sedangkan harga bensin anjlok 9,7 persen.

Situasi kembali berbalik arah pada Juli. Konflik AS-Iran memanas kembali, dan harga minyak Brent sempat menembus level 100 dollar AS per barel sebelum kembali turun usai AS untuk sementara menghentikan serangannya. Harga minyak bahkan kembali naik pada Rabu, setelah militer AS mencegat rudal balistik Iran yang diarahkan ke pasukan AS di Timur Tengah.

The Fed kini dihadapkan pada pertanyaan krusial: apakah kenaikan harga energi hanya bersifat sementara, atau mulai merembet ke biaya transportasi, produksi, upah, hingga harga barang dan jasa lainnya. Pasar pun akan mencermati perubahan nuansa bahasa dalam pernyataan resmi FOMC. Penekanan yang lebih kuat terhadap risiko inflasi dan energi berpotensi menghasilkan skenario “hawkish hold”, yakni suku bunga dipertahankan namun peluang kenaikan pada rapat berikutnya tetap terbuka lebar.

3. Potensi Perbedaan Suara (Dissent) di Internal FOMC

Hasil pemungutan suara anggota FOMC menjadi hal lain yang tak kalah penting untuk dicermati.

Pada rapat Juni, keputusan mempertahankan suku bunga disepakati secara bulat dengan hasil 12-0. Namun, keputusan bulat tersebut belum tentu terulang pada rapat Juli ini.

Presiden The Fed wilayah Dallas, Lorie Logan, sebelumnya menyatakan suku bunga yang sedikit lebih tinggi diperlukan untuk memastikan inflasi kembali menuju target. Presiden The Fed wilayah Cleveland, Beth Hammack, juga menilai tekanan inflasi mulai meluas dan tidak lagi hanya berasal dari sektor energi atau kelompok barang tertentu saja.

Jika The Fed akhirnya memutuskan mempertahankan suku bunga, Logan dan Hammack berpeluang menjadi anggota yang memilih opsi kenaikan 25 basis poin alias dissenting vote. Munculnya satu atau dua suara berbeda akan menjadi sinyal bahwa dukungan terhadap kenaikan bunga mulai menguat di internal FOMC, sehingga keputusan menahan bunga bisa dibaca sebagai bentuk penundaan sebelum langkah pengetatan diambil pada rapat berikutnya.

Sebaliknya, jika The Fed menaikkan suku bunga, pasar akan mencermati apakah ada pejabat yang lebih memilih menunggu dan memberikan suara penolakan. Hasil pemungutan suara pada akhirnya akan mencerminkan seberapa solid dukungan terhadap keputusan yang diambil, sekaligus memberi gambaran mengenai arah kebijakan lanjutan.

4. Sinyal Arah Kebijakan Menuju Rapat September

Jika suku bunga kembali dipertahankan, perhatian pasar akan langsung bergeser ke rapat FOMC berikutnya yang dijadwalkan pada 15-16 September 2026, yang oleh sejumlah analis dianggap sebagai titik pengambilan keputusan yang sesungguhnya.

Sebab, FOMC Juli tidak menyertakan proyeksi ekonomi maupun dot plot terbaru, sehingga pasar masih berpegang pada hasil rapat Juni untuk membaca arah suku bunga ke depan. Dalam dot plot Juni, sembilan dari 18 anggota FOMC yang memberikan proyeksi memperkirakan suku bunga perlu berada di level lebih tinggi pada akhir 2026, delapan peserta memproyeksikan bunga tetap, sementara hanya satu peserta yang melihat peluang penurunan bunga. Warsh sendiri tidak menyerahkan proyeksi pribadi.

Median proyeksi suku bunga akhir tahun pun naik menjadi 3,8 persen, dari sebelumnya 3,4 persen pada proyeksi Maret. Pergeseran ini menunjukkan peluang pemangkasan bunga kian tertutup, sementara ruang kenaikan justru semakin terbuka.

Ekspektasi serupa tercermin dari data pasar terkini. Karena itu, pelaku pasar akan mencermati apakah pernyataan FOMC kali ini memberi petunjuk bahwa The Fed hanya membutuhkan data tambahan sebelum benar-benar mulai menaikkan suku bunga. Sinyal semacam itu dapat muncul lewat penilaian yang lebih tegas terhadap risiko inflasi, atau penegasan bahwa setiap rapat tetap terbuka terhadap perubahan arah kebijakan.

Jika The Fed menahan bunga namun terkesan hawkish dalam pernyataannya, ekspektasi kenaikan bunga pada September berpotensi tetap bertahan, dan menjaga dollar AS serta imbal hasil obligasi AS tetap tinggi. Sebaliknya, ekspektasi tersebut bisa mengendur jika The Fed menilai tekanan inflasi mulai mereda.

5. Konferensi Pers Kevin Warsh Jadi Penentu Arah

Setelah keputusan suku bunga diumumkan, perhatian pasar akan sepenuhnya beralih ke konferensi pers Kevin Warsh.

Forum ini menjadi semakin krusial karena FOMC Juli tidak disertai proyeksi ekonomi maupun dot plot. Alhasil, penjelasan Warsh akan menjadi petunjuk utama mengenai cara The Fed menilai perkembangan inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dampak lonjakan harga minyak, serta arah kebijakan suku bunga ke depan.

Pasar sejauh ini masih berupaya memahami gaya komunikasi Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru. Sejak menjabat, ia dikenal cenderung mengurangi porsi forward guidance atau petunjuk kebijakan jauh-jauh hari sebelum keputusan diambil, bahkan sempat memangkas drastis panjang pernyataan resmi FOMC dibanding era Powell. Warsh menginginkan setiap rapat tetap terbuka terhadap seluruh opsi kebijakan berdasarkan data terbaru, sebuah pendekatan yang membuat pelaku pasar semakin sulit memperkirakan arah keputusan berikutnya.

Jika suku bunga akhirnya ditahan, Warsh kemungkinan besar akan dicecar pertanyaan mengenai alasan The Fed belum bertindak, kendati inflasi masih tinggi dan harga minyak kembali naik akibat konflik di Timur Tengah. Sebaliknya, jika bunga dinaikkan, pasar akan menanti penjelasan apakah langkah tersebut merupakan awal dari rangkaian kenaikan bunga baru, atau semata tindakan pencegahan atas risiko inflasi yang muncul dari lonjakan harga energi.

Nada bicara Warsh dalam konferensi pers nanti pun diperkirakan akan turut memperlihatkan seberapa besar pengaruh kubu pendukung kenaikan suku bunga di dalam tubuh FOMC saat ini. (*)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
CLOSE ADS