60 Ribu Migran Serbu Ceuta dalam 24 Jam, 34 Orang Tewas saat Menyeberang

4 menit membaca View : 25
vik.nusantara
Internasional - 31 Jul 2026

INTERNASIONAL, vikara.id - Gelombang migran besar-besaran melanda wilayah kekuasaan Spanyol di Afrika Utara, Ceuta. Presiden Ceuta melaporkan sekitar 60 ribu migran menyeberang dari Maroko dalam kurun 24 jam terakhir, dengan sedikitnya 34 orang tewas selama proses penyeberangan.

Lonjakan ini terjadi tak lama setelah Mahkamah Agung Spanyol memutuskan bahwa migran yang dicegat di laut saat berupaya mencapai Ceuta atau Melilla, wilayah kekuasaan Spanyol lainnya, tidak boleh langsung dipulangkan ke Maroko.

Disebut sebagai 'Serangan'

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyebut situasi ini sebagai "serangan" dan menegaskan seluruh migran ilegal akan dipulangkan ke Maroko "secepat mungkin". Menurut otoritas setempat, lebih dari 25 ribu orang sudah kembali ke Maroko secara sukarela.

Sanchez menuding jaringan kriminal memanfaatkan putusan Mahkamah Agung untuk memanipulasi situasi. Ia menyebut informasi keliru "menyebar cepat seperti kebakaran hutan dalam beberapa jam terakhir". Menurutnya, otoritas Maroko turut bekerja sama dalam rencana pemulangan para migran yang masuk secara ilegal.

Spanyol kini mengerahkan pasukan militer untuk memperkuat keamanan di Ceuta maupun kota kembarnya, Melilla, yang semalam juga mencatat 300 hingga 400 penyeberangan.

Data dan Cerita dari Lapangan

Presiden Ceuta, Juan Jesus Vivas, menyebut situasi ini "tak tertahankan" karena jumlah migran yang tiba setara sekitar 70 persen dari total populasi kota tersebut, yang menurut data terbaru berjumlah sekitar 83.600 jiwa.

READ  Nepal Kubur Sementara Ratusan Jenazah Tak Dikenali, DNA Disimpan untuk Identifikasi

Kementerian Dalam Negeri Spanyol memberikan angka sedikit berbeda kepada BBC, yakni sekitar 50 ribu kedatangan sejak dini hari Kamis. Kementerian itu juga mencatat lebih dari 25 ribu orang telah meninggalkan Ceuta menuju Maroko sejak Jumat pagi hingga pukul 13.00 waktu setempat (11.00 GMT), dengan laju kepulangan mencapai 150 orang per menit.

Diperkirakan sedikitnya 7.000 dari mereka yang menyeberang secara ilegal dalam 24 jam terakhir adalah anak di bawah umur. Sebagian besar yang menyeberang adalah laki-laki muda, meski turut terlihat perempuan, anak-anak, bahkan bayi di antara kerumunan.

Biasanya, migran harus berenang sejauh beberapa kilometer dari pesisir untuk mencoba masuk ke Ceuta. Namun kali ini mereka tampak bisa mendekati pagar perbatasan dengan mudah, bahkan sebagian sempat berjalan di atas bebatuan dermaga sebelum akhirnya berenang menuju pantai di sisi lain. Belum jelas di mana posisi penjaga perbatasan Maroko saat itu dan mengapa kerumunan migran tidak dibubarkan atau dihentikan.

Seorang migran yang memilih kembali ke Maroko mengaku kepada Reuters, "Orang-orang di sini mati. Saya mohon, kalau kalian belum datang, jangan datang. Jangan lakukan itu."

READ  Iran Sindir AS: Koar-koar Ancam Eskalasi tapi Tuntut Negosiasi

Media lokal melaporkan suasana kacau di jalanan Ceuta sejak Kamis. Seorang petugas keamanan rumah sakit kepada media Spanyol ABC mengatakan, "Ini lebih kuat dan lebih agresif dibanding yang pernah kami alami sebelumnya."

Kerumunan berkumpul di perbatasan antara Maroko dan Spanyol semalam.

Kerumunan berkumpul di perbatasan antara Maroko dan Spanyol semalam.

Bukan yang Pertama, tapi Terbesar

Lonjakan migran serupa pernah terjadi pada 2021, meski dengan skala jauh lebih kecil. Saat itu otoritas Maroko membiarkan sekitar 8.000 orang menyeberang, buntut dari sengketa dengan Madrid soal kedaulatan Sahara Barat. Sengketa diplomatik itu kembali memanas belakangan ini, setelah Sanchez berkunjung ke Aljazair yang mendukung kemerdekaan wilayah tersebut.

Tim BBC Verify menelusuri data migrasi yang dirilis PBB dan menemukan 2.826 orang menyeberang ke Ceuta hingga 15 Juli tahun ini, ditambah 181 orang lewat Melilla. Angka ini sudah tergolong tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya, yakni 994 migran pada 2025, 476 pada 2024, dan 467 pada 2023.

Ceuta dan Melilla melacak sejarah kekuasaan Spanyol sejak abad ke-15 dan memiliki pemerintahan otonomi terbatas sejak 1995. Kedua wilayah ini lama menjadi titik sengketa diplomatik dengan Maroko yang mengklaimnya, sekaligus menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Afrika.

READ  Inggris Raya di Ambang Pecah, 3 Wilayah Minta Referendum

Eropa Bereaksi

Perdana Menteri Italia yang beraliran kanan, Giorgia Meloni, menyebut gambar-gambar dari Ceuta "mengejutkan" dan menuding "imigrasi tak terkendali" sebagai ancaman keamanan bagi Eropa. Ia bersama Kementerian Luar Negeri Italia menyatakan akan mempertimbangkan menangguhkan perjanjian zona Schengen dengan Spanyol soal kebebasan bergerak. Karena kedua negara tak memiliki perbatasan darat, langkah ini praktis hanya akan berdampak pada penerbangan, berupa pemeriksaan tambahan bagi penumpang.

Menteri Luar Negeri Spanyol menyebut pernyataan itu "tidak pantas" datang dari mitra dan negara sahabat yang seharusnya menunjukkan solidaritas Eropa, bukan demagogi partisan. Ia bahkan memanggil Duta Besar Italia ke Madrid pada Jumat.

Kepala Uni Eropa Ursula von der Leyen menyebut gambar-gambar dari Ceuta "tak bisa diterima" dan harus "dihentikan segera". Menteri Dalam Negeri Finlandia Mari Rantanen mendukung usulan Meloni dan menilai Spanyol gagal menjaga perbatasannya, sementara Kanselir Jerman Friedrich Merz mendesak Maroko "segera menerima kembali migran ilegal".

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham dan Presiden Prancis menawarkan bantuan kepada Spanyol menghadapi krisis ini.

Zona Schengen sendiri merupakan sistem perbatasan terbuka yang mencakup 29 negara Eropa yang secara resmi telah menghapus pemeriksaan di perbatasan bersama mereka. (*)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
CLOSE ADS