
JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut cicilan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh berada di kisaran Rp1 triliun per tahun setelah dilakukan restrukturisasi. Utang tersebut direstrukturisasi dengan tenor hingga 80 tahun.Purbaya mengatakan besaran cicilan dapat berubah setiap tahun sesuai dengan skema pembayaran yang diterapkan.
Meski total utang proyek Whoosh cukup besar, restrukturisasi tersebut membuat beban pembayaran pemerintah menjadi lebih ringan.“Total utang besar, tapi sudah direstrukturisasi 80 tahun, cicilannya Rp1 triliun atau sedikit di bawah dari tahun ke tahun. Ada yang tinggi, ada yang rendah,” kata Purbaya dalam taklimat media di Jakarta, dikutip dari Antara.
Menurut Purbaya, dengan cicilan sekitar Rp1 triliun per tahun, Kementerian Keuangan masih mampu menangani kewajiban utang proyek kereta cepat tersebut.Pemerintah sebelumnya menyiapkan perusahaan special vehicle mission (SMV) atau Badan Layanan Umum (BLU) untuk mengelola utang KCJB setelah tanggung jawab pengelolaannya beralih kepada pemerintah.
Dua opsi SMV yang dipertimbangkan yakni Indonesia Investment Authority (INA) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Namun, pemerintah masih mengevaluasi kebutuhan pengelolaan utang berdasarkan besaran beban pembayaran setiap tahun.Jika cicilan tetap berada di kisaran Rp1 triliun per tahun, Purbaya membuka kemungkinan pengelolaan utang Whoosh cukup ditangani oleh satu SMV di bawah Kementerian Keuangan.“Saya cuma lihat bebannya setiap tahun seperti apa. Kalau segini saja cukuplah ditangani oleh satu SMV di bawah Kementerian Keuangan,” ujarnya.
Utang Whoosh Beralih ke Kemenkeu Pemerintah merencanakan pengalihan tanggung jawab pengelolaan utang KCJB dari Danantara kepada Kementerian Keuangan pada 15 September 2026.Setelah pengelolaan utang beralih, Purbaya juga membuka peluang memperluas jaringan kereta cepat Whoosh ke wilayah lain di Pulau Jawa.
Salah satu rencana yang tengah dibahas adalah memperpanjang jalur tersebut hingga Jawa Timur.Purbaya mengatakan rencana itu telah dibicarakan dengan Menteri Keuangan China. Menurutnya, pihak China menunjukkan ketertarikan terhadap rencana pengembangan jaringan kereta cepat tersebut.“Nanti kami tarik ke Jawa Timur. Kan jadi punya saya (pemerintah), punya SMV kan itu kereta cepatnya.
Kami akan tarik ke Jawa Timur. Saya sudah bicara dengan Menteri Keuangan China dan siapa yang berwenang di sana, sepertinya mereka tertarik,” kata Purbaya. Sebelumnya, Purbaya menyebut keterlibatan SMV atau BLU di bawah Kementerian Keuangan dalam restrukturisasi utang Whoosh berpotensi menghasilkan keuntungan hingga Rp800 miliar per tahun.
Ia juga menilai SMV atau BLU Kementerian Keuangan memiliki kapasitas untuk menangani kewajiban tersebut. Menurut Purbaya, salah satu perusahaan SMV bahkan mampu mencatat keuntungan sekitar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun per tahun.


Tidak ada komentar