Viral sejumlah pusat perbelanjaan atau mal dan gedung di Jakarta memasang pagar tinggi.Jakarta, vikara.id – Fenomena pemasangan pagar besi tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan besar di Jakarta dan Surabaya mendadak jadi sorotan publik. Video yang memperlihatkan pagar setinggi beberapa meter terpasang di area luar mal viral di media sosial dan memicu beragam spekulasi warganet, mulai dari isu keamanan, krisis ekonomi, hingga kekhawatiran kerusuhan.
Setidaknya ada beberapa mal besar yang terpantau memasang pagar serupa. Di Surabaya, Jawa Timur, tercatat ada Pakuwon Mall Surabaya, Royal Plaza, Tunjungan Plaza, hingga Pakuwon City Mall. Sementara di Jakarta, pagar serupa terpasang di Mal Kota Kasablanka (Kokas) dan Blok M Plaza. Semua mal tersebut diketahui berada di bawah pengelolaan PT Pakuwon Jati Tbk (kode emiten: PWON).
Khusus di Mal Kokas, pagar yang terpasang berwarna abu-abu dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Pemantauan lapangan mencatat pagar baru terpasang di sekitar 100 meter dari pintu masuk depan mal.
Di media sosial, warganet ramai berspekulasi soal alasan di balik pemasangan pagar ini. Sebagian mengaitkannya dengan kekhawatiran kerusuhan menjelang Agustus 2026, bahkan ada yang menyinggung peristiwa kerusuhan yang pernah terjadi di Nepal. “Desas-desusnya krisis, jadi takut penjarahan,” tulis salah satu warganet di kolom komentar video viral tersebut.
Menjawab spekulasi liar warganet, Direktur Marketing Pakuwon Group yang juga Direktur PT Pakuwon Jati Tbk, Sutandi Purnomosidi, langsung angkat bicara. Ia menegaskan pagar tinggi itu bukan hal baru, melainkan sudah menjadi identitas mal-mal milik Pakuwon Group sejak puluhan tahun lalu.
“Mal Pakuwon sudah banyak yang dipagari. Royal Plaza sudah dipagari sejak tahun 2006, sudah 20 tahun pagarnya pakai hollow hitam, sekarang sudah karatan kena panas dan hujan,” ujar Sutandi dikutip dari akun Instagram resminya, Jumat (31/7/2026).
Ia menjelaskan, prototipe pagar tinggi ini justru pertama kali diterapkan di Blok M Plaza, Jakarta Selatan. “Kita sejak Blok M Plaza sudah ada pagar keliling, dan prototype pagar tinggi itu justru dari Blok M Plaza, ini jadi identitas kita,” katanya.
Soal niat awal pemasangan pagar, Sutandi mengungkap alasannya murni demi keselamatan pengunjung, bukan isu keamanan. “Awalnya kita berpikir Pakuwon Mal ini kan lebar sekali nyambung sampai Citra Land, itu kalau semua orang nyebrang masuk sembarangan bahaya buat mereka sendiri, awalnya di sana niatannya,” jelasnya.
Ia pun membantah tegas kaitan pemasangan pagar dengan isu-isu yang beredar belakangan ini. “Pakuwon bukan peramal, kita tidak tahu apa yang akan terjadi,” tegasnya.
Senada dengan Pakuwon Group, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja juga menepis isu keamanan sebagai alasan utama. Menurutnya, pemasangan pagar di pusat perbelanjaan sejatinya bukan kebijakan baru maupun instruksi khusus yang berlaku secara nasional.
“Pemasangan pagar di pusat perbelanjaan bukan hal baru. Banyak pusat perbelanjaan yang sejak dibangun telah dilengkapi dengan pagar,” kata Alphonzus.
Ia menyebut alasan utama pemasangan pagar adalah untuk menertibkan arus keluar masuk pengunjung. “Sebetulnya kan tujuan utamanya adalah untuk supaya lebih menertibkan gitu loh, arus keluar masuk pengunjung,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa tanpa pagar, pengunjung berisiko keluar masuk dari sembarang sudut yang membahayakan lalu lintas sekitar mal.
Namun demikian, Alphonzus tak menampik ada fungsi tambahan dari pagar tersebut, khususnya bagi mal yang berlokasi di titik titik rawan demonstrasi seperti Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan. “Beberapa pusat perbelanjaan berada di dekat lokasi yang sering menjadi tempat demonstrasi. Pagar tersebut juga berfungsi sebagai batas pengamanan atau perimeter security apabila ada aksi demonstrasi,” pungkasnya.
Merespons kehebohan ini, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso juga buka suara usai berkoordinasi dengan sejumlah asosiasi pengusaha, mulai dari APPBI hingga Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). Ia menegaskan pemasangan pagar tinggi ini tidak ada kaitannya dengan isu keamanan tertentu.
“Oh nggak, nggak ada masalah (keamanan), nggak ada. Kita dari koordinasi dengan Apindo, dengan APPBI nggak ada masalah kok, nggak ada isu itu,” ujar Budi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta Pusat, Jumat (31/7/2026).
Meski alasannya dijelaskan cukup teknis, pemasangan pagar ini disebut turut berdampak pada estetika bangunan. Pantauan di lapangan menunjukkan pagar tinggi di area depan Mal Kokas cukup mengganggu tampilan visual, membuat fasad mal jadi sulit terlihat jelas karena terhalang pagar yang cukup tinggi.
Dari penjelasan berbagai pihak, mulai dari pengelola mal, asosiasi pengusaha, hingga Kementerian Perdagangan, pemasangan pagar tinggi di sejumlah mal besar ini disebut lebih didorong oleh alasan teknis, yaitu menertibkan arus pengunjung dan sebagai langkah antisipasi jika terjadi aksi demonstrasi di sekitar lokasi mal. Baik Pakuwon Group maupun pemerintah kompak membantah adanya kaitan dengan isu krisis ekonomi maupun ancaman kerusuhan yang sempat beredar di kalangan warganet. (*)


Tidak ada komentar