
JAKARTA, vikara.id – DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menegaskan pernyataan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin terkait kondisi Nahdlatul Ulama (NU) bukan ditujukan sebagai serangan terhadap Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Ketua Harian DPP PKB Najmi Mumtaza Rabbany atau Gus Najmi mengatakan pernyataan Cak Imin harus dilihat secara utuh. Menurutnya, substansi pernyataan tersebut merupakan kritik terhadap kepemimpinan dan evaluasi terhadap kondisi NU selama lima tahun terakhir.
“Saya kira pernyataan Gus Muhaimin harus dilihat secara utuh dan proporsional. Beliau sedang mengkritik sebuah kepemimpinan dan mengevaluasi kondisi NU, bukan menyerang HMI sebagai organisasi ataupun seluruh alumninya,” kata Gus Najmi dalam keterangannya, Minggu (30/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Najmi setelah komentar Cak Imin mengenai kondisi NU menuai respons dari sejumlah alumni HMI. Polemik bermula dari pernyataan Cak Imin dalam acara bedah buku Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik, dan Kemasyarakatan di Jombang, Jumat (28/8/2026).
Dalam forum tersebut, Cak Imin menyebut NU mengalami keterpurukan selama lima tahun terakhir. Ia mengajak kader PMII dan warga NU untuk melakukan evaluasi secara terbuka terhadap kondisi organisasi.
“Tema terbesar hari ini adalah menyelamatkan NU dari keterpurukan lima tahun terakhir,” ujar Cak Imin.
Ia kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan latar belakang organisasi kemahasiswaan pemimpin NU.
“Yang jelas terpuruk karena dipimpin oleh alumni HMI kira-kira gitulah,” kata Cak Imin.
Gus Najmi menilai latar belakang HMI dari seorang tokoh merupakan fakta biografis yang tidak dapat otomatis dijadikan dasar untuk menganggap kritik terhadap tokoh tersebut sebagai serangan terhadap organisasi HMI.
Menurut dia, substansi kritik Cak Imin berada pada persoalan kapabilitas dan hasil kepemimpinan.
“Jika setiap kritik terhadap seorang figur otomatis dianggap kritik terhadap organisasinya, maka kita sedang terjebak dalam fallacy berpikir,” ujar Gus Najmi.
Ia menambahkan, latar belakang HMI merupakan identitas personal tokoh yang dikritik, sedangkan persoalan yang menjadi perhatian Cak Imin berkaitan dengan kepemimpinan dan hasil yang dicapai.
“Latar belakang HMI adalah identitas personal tokoh yang dimaksud, namun poin utamanya adalah tentang kapabilitas dan hasil kepemimpinan,” katanya.
Gus Najmi juga menegaskan posisi Cak Imin sebagai bagian dari NU dan tradisi pesantren. Karena itu, kritik yang disampaikan Ketua Umum PKB tersebut disebutnya sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk mendorong perbaikan internal NU.
“Gus Muhaimin adalah bagian tak terpisahkan dari NU dan tradisi pesantren. Kritik yang beliau lontarkan lahir dari rasa tanggung jawab moral untuk perbaikan rumahnya sendiri,” ujar Gus Najmi.
Polemik tersebut sebelumnya mendapat respons dari mantan Ketua Umum PB HMI Anas Urbaningrum. Melalui akun X, Anas menyindir Cak Imin setelah pernyataan mengenai alumni HMI tersebut beredar.
Anas menulis, “Kok kayak kekurangan kosa kalimat aja sampeyan @cakimiNOW.”
Namun Anas kemudian tetap menyampaikan pesan persahabatan kepada Cak Imin dan mendoakan agar Ketua Umum PKB tersebut tetap sehat dan sukses.
Cak Imin kemudian merespons langsung unggahan Anas. Ia menjelaskan bahwa pernyataan mengenai HMI tersebut merupakan bagian dari candaan internal di lingkungan PMII.
“Ampuuuun.. ini gojlokan internal PMII, tidak untuk publik,” balas Cak Imin.
Meski demikian, respons terhadap pernyataan tersebut tidak hanya datang dari Anas. Sejumlah elemen HMI dan alumni HMI juga menyampaikan keberatan.
Majelis Daerah Korps Alumni HMI (KAHMI) Majalengka, misalnya, menilai mengaitkan kondisi NU dengan latar belakang organisasi kemahasiswaan seseorang berpotensi menyudutkan dan menggeneralisasi alumni HMI.
“Kritik terhadap kepemimpinan merupakan bagian dari kehidupan organisasi. Tapi menjadikan identitas kelompok sebagai penyebab keterpurukan merupakan penyederhanaan persoalan yang tidak mendidik dan tidak mencerminkan semangat persatuan,” kata Koordinator Presidium MD KAHMI Majalengka, Muaz.
Mantan Ketua Umum PB HMI M. Arief Rosyid Hasan juga mengingatkan agar persoalan NU tidak direduksi menjadi pertarungan identitas antara HMI dan PMII. Menurutnya, evaluasi terhadap NU seharusnya diarahkan pada kebijakan, tata kelola, program dan kepemimpinan, bukan latar belakang organisasi kemahasiswaan.
Gus Najmi meminta polemik tersebut tidak berkembang menjadi pertentangan antarkelompok organisasi mahasiswa maupun pemuda.
“Jangan sampai narasi evaluasi kepemimpinan ini dipelintir menjadi adu domba antar-organisasi pergerakan. Perbedaan analisis itu sehat, namun persatuan gerakan mahasiswa dan pemuda harus tetap yang utama,” katanya.
Polemik pernyataan Cak Imin tersebut berlangsung bersamaan dengan Muktamar ke-35 NU di Jombang yang tengah membahas arah organisasi dan kepemimpinan NU untuk periode berikutnya. Dalam konteks tersebut, kritik terhadap kondisi NU menjadi bagian dari perdebatan lebih luas mengenai evaluasi organisasi dan arah kepemimpinan NU ke depan. (*)


Tidak ada komentar