Wajah Kumamoto Pascagempa: Dari Mal yang Runtuh hingga Kuil yang Rata dengan Tanah

4 menit membaca View : 21
vik.nusantara
Internasional - 30 Jul 2026

Dua hari setelah gempa bermagnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto pada Selasa (28/7/2026) pukul 16.30 waktu setempat, tim gabungan militer, polisi, dan pemadam kebakaran Jepang masih berpacu dengan waktu. Fokus utama operasi penyelamatan ada di reruntuhan Aeon Mall Kumamoto di Kota Kashima, tempat 20 hingga 30 orang diperkirakan masih terjebak sejak ledakan besar mengguncang pusat perbelanjaan itu tak lama setelah gempa terjadi.

"Masih ada orang-orang yang menunggu untuk diselamatkan dan ini adalah perlombaan melawan waktu," kata Perdana Menteri Sanae Takaichi. "Kami akan mengerahkan seluruh upaya untuk menemukan dan menyelamatkan sebanyak mungkin orang," tambahnya.

Sekitar 130 polisi, 450 petugas pemadam kebakaran, dan 170 personel militer dikerahkan khusus untuk operasi di Aeon Mall, menurut juru bicara pemerintah Minoru Kihara. Petugas berpakaian pelindung oranye dan berhelm putih terlihat menyusuri tumpukan baja yang bengkok, kabel yang menjuntai, serta puing langit langit yang berjatuhan, sementara gempa susulan terus mengguncang wilayah tersebut.

Angka korban terus bertambah

Data terbaru pada Kamis (30/7/2026) menunjukkan korban tewas telah mencapai 27 orang, meningkat dari 17 orang pada hari kedua dan 9 orang pada hari pertama. Pemerintah memperkirakan jumlah ini masih akan bertambah seiring tim penyelamat terus menyisir area area yang paling parah terdampak.

Di luar mal, bencana ini juga meninggalkan jejak di pabrik Nippon Paper Industries, Kota Yatsushiro. Lima orang dipastikan tewas dan empat lainnya masih hilang setelah sebagian cerobong asap merah putih pabrik itu runtuh. Foto udara memperlihatkan bangunan bertingkat yang ambruk sebagian, dengan petugas penyelamat berusaha menjebol tembok untuk mencapai korban.

Saksi mata: gempa terkuat seumur hidup

Kekuatan gempa ini tercatat di level tertinggi skala shindo Jepang yang terdiri dari tujuh tingkatan. Kanzo Matsumoto (73), pengelola penginapan pemandian air panas di Yatsushiro, menggambarkan pengalamannya: "Ini adalah gempa terkuat yang pernah saya alami."

Guncangan serupa dirasakan Yuki Kiyozumi, wakil kepala pendeta sebuah kuil Buddha abad ke 16 di Distrik Nuyamazu, yang baru saja tiba di rumah dan hendak memberi makan kucingnya ketika lantai bergetar hebat hingga ia harus merangkak. Sepasang gerbang kuil yang baru direnovasi lima tahun lalu ikut runtuh. "Saya bahkan tidak tahu apakah atau bagaimana kita bisa membangunnya kembali," katanya sambil membersihkan ornamen dan furnitur yang rusak. Kuil Yatsushiro, situs Shinto bersejarah di kota yang sama, juga kehilangan salah satu bangunan utamanya yang ambruk rata dengan tanah.

Otoritas Informasi Geospasial Jepang mencatat pergeseran permukaan tanah hingga 87 sentimeter akibat gempa ini.

Dampak pada infrastruktur dan layanan dasar

Kerusakan meluas ke jaringan transportasi dan utilitas. Salah satu lajur Jembatan Ueyanagi di Yatsushiro runtuh ke sungai di bawahnya, meski warga masih bisa menggunakan lajur lainnya. Beberapa jalan layang mengalami kerusakan serius, sebagian rata dengan tanah, sebagian lain bergeser hingga harus ditutup otoritas setempat. Layanan kereta cepat shinkansen sebagian besar masih ditangguhkan hingga Rabu.

Sekitar 31.200 rumah dan fasilitas masih tanpa listrik pada Rabu pagi, sementara 84.000 rumah lainnya mengalami gangguan pasokan air. Lebih dari 9.000 orang mengungsi di 506 tempat penampungan yang tersebar di tiga wilayah Pulau Kyushu.

Perdana Menteri Takaichi menyampaikan pemerintah tengah bersiap mengirimkan makanan dan kebutuhan pokok ke daerah daerah terdampak parah, seraya menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan simpati kepada keluarga mereka.

Trauma lama di tanah yang sama

Kumamoto bukan orang baru menghadapi bencana semacam ini. Pada 2016, wilayah barat daya Kumamoto ini pernah dilanda dua gempa kembar yang menewaskan 273 orang dan melukai lebih dari 2.800 orang.

Badan Survei Geologi AS mencatat magnitudo gempa kali ini sebesar 6,8, lebih rendah dibanding catatan resmi Jepang yang mencapai 7,1. Jepang, yang berdiri di atas empat lempeng tektonik utama di sepanjang tepi barat "Cincin Api" Pasifik, adalah salah satu negara paling aktif secara seismik di dunia. Wilayah ini menyumbang sekitar 18 persen dari total gempa bumi dunia dan biasa mengalami ratusan guncangan setiap tahun, meski sebagian besar tergolong ringan.

Bayang bayang gempa besar 2011, magnitudo 9,0 yang memicu tsunami dahsyat, menewaskan atau menghilangkan sekitar 18.500 orang, dan menghancurkan pembangkit nuklir Fukushima, masih membekas dalam ingatan kolektif bangsa ini setiap kali bumi kembali berguncang.

Pasukan Bela Diri Jepang kini bergabung dengan ratusan petugas penyelamat, termasuk tim pemadam kebakaran dari Taiwan, dalam operasi pencarian yang masih berlangsung di tengah puing puing Kumamoto. (AP/AFP/REUTERS)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
CLOSE ADS